Sebagai karyawan kontrak, sebenarnya Dedy
Kushendriyatno masih terhitung beruntung dibandingkan ribuan pencari kerja di
kota Yogyakarta empat tahun silam. Pendidikannya yang mumpuni membuatnya
diterima di sebuah perusahaan IT bank. Selain fasilitas mobil, empat belas kali
gajian berikut berbagai tunjangan menambal kantongnya. Saat itu posisinya mulai
menanjak dari karyawan biasa menjadi supervisor maintenance IT di perusahaan
tersebut.
Prestasinya sudah mulai diperhitungkan.
Namun, impiannya untuk merasakan posisi direktur tetap saja sulit tercapai di
perusahaan yang penuh kompetisi antara sesama karyawan itu. “Pengen sekali
ngerasain jadi direktur, ya, cuma satu jalannya mesti keluar dari perusahaan
itu,” sebutnya tentang cara kilatnya menjadi direktur.
Genap empat tahun sebagai karyawan, ia berani
resign dari perusahaan itu. Sayangnya, bukan dukungan penuh yang diperoleh dari
orang-orang terdekatnya, tetapi justru ejekan, cemoohan hingga berujung
menyepelekannya. “Kok kemarin jadi IT bank, sekarang jadi tukang cuci. Belum
punya pengalaman sok-sokan jadi pengusaha lagi,” ujar pria kelahiran Pati ini
tergelak.
Ia tepis rasa mindernya saat itu dengan tetap
fokus pada tujuannya menjadi pengusaha. ”Biarin jadi tukang cuci, yang penting
sekalian jadi direkturnya para tukang cuci,” gumamnya dalam hati, tak berani
dengan tegas mengatakannya, sebab belum bisa menunjukkan bukti. Namun tetap
saja bagi siapa pun saat itu, keputusan yang dia ambil sangatlah konyol.
Usaha jasa laundry membutuhkan total modal
sebesar Rp50 juta. Sementara ia hanya memiliki modal satu kali gaji terakhir,
sebesar Rp1,5 juta. Ia juga masih harus memikirkan kelangsungan hidup rumah
tangganya. Usaha yang dibangunnya itu pun belum tentu bisa langsung untung,
sebab ia masih nol pengalaman menjadi pengusaha.
“Mau bisnis, ya, jangan pakai duit sendiri,
pakai duit orang lain saja,” ia berargumen soal ulahnya yang dianggap tak masuk
akal itu. Ia kemudian mulai mendekati mantan teman-teman kantornya yang dinilai
bisa menjadi bankir usaha tersebut. Ditawarkannya sebuah kerjasama bisnis bagi
hasil. Singkat cerita masalah modal akhirnya teratasi.
Modal sudah terkumpul, Dedy, begitu sapaan
akrabnya, mendirikan usaha jasa laundry di kota Yogyakarta. Ia berani menjadi
tukang cuci buat usahanya itu bersama istri dan kedua karyawannya. Namun,
persaingan antara sesama usaha laundry di kota itu tak bisa dibendung, sehingga
pendapatan bulan pertama cukup tipis. Ia putar akal sehingga tercetus ide
mencari pasar lebih besar dengan kontrak kerja tahunan.
“Alhamdulillah strategi pema-saran saya
berhasil jitu. Bulan kedua saya mendapatkan kontrak kerja laundry service dari
EO-nya PPE FE UGM yang bergerak di bidang sentra pendidikan kilat daerah
Indonesia Timur, instansi dan Departemen Keuangan dengan kontrak service
laundry tiap tahunan,” ujar suami Tri Setyaningsih ini bangga. Dari situ arus
cash flow-nya pun mulai moncer bulan-bulan berikutnya.
Sukses dengan usaha layanan jasa laundry,
otaknya terus mencari celah bisnis. Ia mulai mengincar peluang baru yang masih
luput dari perhatian pengusaha laundry tanah air, yakni usaha laundry
management business support, berikut melayani pengadaan kebutuhan mesin-mesin
laundry. Ia mengemas mesin-mesin laundry itu dalam beberapa paket waralaba yang
bisa dijalankan oleh pengusaha laundry baru. Di dalamnya sudah terdiri dari
standart operasi hingga pendampingan saat menjalani usahanya.
Lantas, pasarnya mulai mapan, setahun kemudian
ia mulai main sebagai dealer atau penyalur mesin-mesin laundry baik skala kecil
mau pun industri, semisal untuk hotel atau laundry-laundry profesional besar.
“Hingga sekarang saya dipercaya menjadi distributor oleh principal salah satu
merek mesin laundry built-up impor dan principal salah satu merk mesin laundry
lokal,” kata pria yang mengaku dipercaya investor atau principal karena selalu
menjaga komitmen ini.
Di bawah fr3sh Group, kini ia telah memiliki
lebih dari 260-an member outlet laundry di seluruh Indonesia. “Saya dan tim
manajemen mau launching laundry booth drive thru on SPBU pada bulan Mei ini,”
lanjutnya tentang inovasi selanjutnya. Kini semua usahanya menjadi keran uang
yang tak henti-hentinya mengalirkan laba ke kantongnya.
Omset bruto dikantonginya sebesar ratusan
juta rupiah setiap bulan. “Kalau dulu kerja 4 tahun jadi employer cari uang
apalagi mau menabung sampai terkumpul 200 juta nggak mungkin sekali,” tukasnya.
Sementara sebagai entrepreneur dalam 4 tahun sudah bisa menghasilkan aset
seperti mobil, rumah, toko, outlet, karyawan, dan sebagainya senilai lebih dari
Rp1 miliar.
“ Tentu enakan jadi pengusaha,” tandasnya
seraya menyebutkan, bukan hanya bisa merasakan posisi direktur, tetapi juga
lebih bahagia dunia akhirat sebab bisa membantu siapa pun yang membutuhkan.
Bukan hanya itu, apa pun yang diinginkannya bisa didapatkan sebab memiliki
lebih banyak uang ketimbang hanya menjadi karyawan. Alhasil, orang-orang
terdekatnya kini justru banyak belajar darinya untuk menjadi pengusaha.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar