Selasa, 15 Oktober 2013

Membuat Analisa Usaha



Potensi pasar merupakan komponen kunci agar analisis usaha bisa kita susun seakurat mungkin. Analisis usaha sendiri merupakan perhitungan awal yang perlu dilakukan untuk memberi gambaran apakah usaha yang hendak kita geluti memberikan untung atau tidak. Lewat analisis semacam ini pula kita bisa memperkirakan berapa banyak keuntungan yang bisa kita peroleh secara rutin. Pada gilirannya, kita juga bisa memperkirakan berapa lama modal yang kita tanam bakal balik.
Berikut komponen sebuah analisis usaha sederhana:
1.Investasi.
Sebuah analisis usaha sederhana biasanya diawali keterangan mengenai besarnya investasi atau modal yang kita tanam. Jangan menyamakan investasi dengan biaya. Investasi adalah dana yang perlu kita keluarkan sekali dan tidak berhubungan dengan kegiatan rutin usaha. Contoh investasi adalah pembelian lahan, mesin, peralatan, pengurusan izin usaha, pendirian bangunan, pembelian peralatan, dan sebagainya. Total dana yang yang dihabiskan untuk mengadakan itu semua disebut investasi.
2.Menghitung Biaya.
Berbeda dengan investasi, biaya adalah dana yang mesti kita keluarkan secara rutin dan periodik selama kita menjalankan usaha. Biaya ini terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap adalah biaya yang harus kita bayarkan rutin dengan nilai yang tetap, tak peduli besarnya perputaran usaha kita. Contoh biaya seperti ini adalah service charge bagi pemilik kios atau toko di mal, biaya pegawai, telepon, listrik, air minum, atau biaya sewa tempat—kalau bukan milik sendiri.
Adapun biaya tidak tetap adalah biaya yang kita keluarkan secara rutin, namun nilainya tergantung pada besar kecilnya perputaran bisnis kita. Biaya pembelian bahan baku, bahan penunjang, kemasan, komisi pegawai, pengiriman barang dan sebangsanya adalah contoh biaya tidak tetap. Prinsipnya, biaya ini jadi besar kalau penjualan kita meningkat, sebaliknya ikut menyusut kalau penjualan kita turun.
Oh ya, biaya tetap bagi satu jenis usaha bisa jadi termasuk biaya tidak tetap bagi jenis usaha yang lain. Contohnya, biaya listrik bagi toko kelontong jelas masuk biaya tetap, tapi bagi pabrik pemintal benang yang mesinnya menggunakan listrik, jelas masuk biaya tidak tetap. Oleh sebab itu, saat menentukan besarnya biaya tidak tetap ini selalu sesuaikan dengan asumsi penjualan yang anda perkirakan.
3.Asumsi Penjualan.
Berhubung usahanya sendiri belum berjalan, maka angka-angka tersebut baru berupa asumsi. Di sinilah perlunya kita menakar potensi pasar. Hasil kalkulasi itulah yang kita pakai sebagai asumsi penjualan.
Nah, kalau seluruh angka perkiraan itu sudah ada, kini tiba saatnya Anda menyusul tabulasi. Pertama-tama, taruh investasi di bagian paling atas, berikut total nilainya. Di bawahnya bisa Anda cantumkan angka asumsi penjualan. Di bawahnya lagi Anda sertakan total biaya.
Langkah selanjutnya, Anda cuma perlu mengurangi angka penjualan per bulan dengan besarnya biaya per bulan. Selisih di antaranya itulah yang kita sebut laba. Kalau hasilnya negatif, ya, berarti rugi. Setelah angka perkiraan ketahuan, silakan evaluasi. Apakah Anda puas dengan nilainya? Untuk mengukur “kepuasan” itu, Anda bisa membagi nilai investasi dengan besarnya laba. Hasilnya merupakan perkiraan waktu untuk mencapai balik modal.
Kalau Anda belum puas dengan perkiraan laba yang Anda dapat, silakan evaluasi lagi, apakah ada kemungkinan melakukan efisiensi biaya? Atau, adakah kemungkinan untuk memperbesar asumsi penjualan secara rasional? Kalau hasilnya tak memuaskan juga, ya terserah Anda untuk merealisasikan rencana bisnis itu atau tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selasa, 15 Oktober 2013

Membuat Analisa Usaha



Potensi pasar merupakan komponen kunci agar analisis usaha bisa kita susun seakurat mungkin. Analisis usaha sendiri merupakan perhitungan awal yang perlu dilakukan untuk memberi gambaran apakah usaha yang hendak kita geluti memberikan untung atau tidak. Lewat analisis semacam ini pula kita bisa memperkirakan berapa banyak keuntungan yang bisa kita peroleh secara rutin. Pada gilirannya, kita juga bisa memperkirakan berapa lama modal yang kita tanam bakal balik.
Berikut komponen sebuah analisis usaha sederhana:
1.Investasi.
Sebuah analisis usaha sederhana biasanya diawali keterangan mengenai besarnya investasi atau modal yang kita tanam. Jangan menyamakan investasi dengan biaya. Investasi adalah dana yang perlu kita keluarkan sekali dan tidak berhubungan dengan kegiatan rutin usaha. Contoh investasi adalah pembelian lahan, mesin, peralatan, pengurusan izin usaha, pendirian bangunan, pembelian peralatan, dan sebagainya. Total dana yang yang dihabiskan untuk mengadakan itu semua disebut investasi.
2.Menghitung Biaya.
Berbeda dengan investasi, biaya adalah dana yang mesti kita keluarkan secara rutin dan periodik selama kita menjalankan usaha. Biaya ini terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap adalah biaya yang harus kita bayarkan rutin dengan nilai yang tetap, tak peduli besarnya perputaran usaha kita. Contoh biaya seperti ini adalah service charge bagi pemilik kios atau toko di mal, biaya pegawai, telepon, listrik, air minum, atau biaya sewa tempat—kalau bukan milik sendiri.
Adapun biaya tidak tetap adalah biaya yang kita keluarkan secara rutin, namun nilainya tergantung pada besar kecilnya perputaran bisnis kita. Biaya pembelian bahan baku, bahan penunjang, kemasan, komisi pegawai, pengiriman barang dan sebangsanya adalah contoh biaya tidak tetap. Prinsipnya, biaya ini jadi besar kalau penjualan kita meningkat, sebaliknya ikut menyusut kalau penjualan kita turun.
Oh ya, biaya tetap bagi satu jenis usaha bisa jadi termasuk biaya tidak tetap bagi jenis usaha yang lain. Contohnya, biaya listrik bagi toko kelontong jelas masuk biaya tetap, tapi bagi pabrik pemintal benang yang mesinnya menggunakan listrik, jelas masuk biaya tidak tetap. Oleh sebab itu, saat menentukan besarnya biaya tidak tetap ini selalu sesuaikan dengan asumsi penjualan yang anda perkirakan.
3.Asumsi Penjualan.
Berhubung usahanya sendiri belum berjalan, maka angka-angka tersebut baru berupa asumsi. Di sinilah perlunya kita menakar potensi pasar. Hasil kalkulasi itulah yang kita pakai sebagai asumsi penjualan.
Nah, kalau seluruh angka perkiraan itu sudah ada, kini tiba saatnya Anda menyusul tabulasi. Pertama-tama, taruh investasi di bagian paling atas, berikut total nilainya. Di bawahnya bisa Anda cantumkan angka asumsi penjualan. Di bawahnya lagi Anda sertakan total biaya.
Langkah selanjutnya, Anda cuma perlu mengurangi angka penjualan per bulan dengan besarnya biaya per bulan. Selisih di antaranya itulah yang kita sebut laba. Kalau hasilnya negatif, ya, berarti rugi. Setelah angka perkiraan ketahuan, silakan evaluasi. Apakah Anda puas dengan nilainya? Untuk mengukur “kepuasan” itu, Anda bisa membagi nilai investasi dengan besarnya laba. Hasilnya merupakan perkiraan waktu untuk mencapai balik modal.
Kalau Anda belum puas dengan perkiraan laba yang Anda dapat, silakan evaluasi lagi, apakah ada kemungkinan melakukan efisiensi biaya? Atau, adakah kemungkinan untuk memperbesar asumsi penjualan secara rasional? Kalau hasilnya tak memuaskan juga, ya terserah Anda untuk merealisasikan rencana bisnis itu atau tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar