Potensi pasar merupakan komponen kunci agar
analisis usaha bisa kita susun seakurat mungkin. Analisis usaha sendiri
merupakan perhitungan awal yang perlu dilakukan untuk memberi gambaran apakah
usaha yang hendak kita geluti memberikan untung atau tidak. Lewat analisis
semacam ini pula kita bisa memperkirakan berapa banyak keuntungan yang bisa
kita peroleh secara rutin. Pada gilirannya, kita juga bisa memperkirakan berapa
lama modal yang kita tanam bakal balik.
Berikut komponen sebuah analisis usaha
sederhana:
1.Investasi.
Sebuah analisis usaha sederhana biasanya
diawali keterangan mengenai besarnya investasi atau modal yang kita tanam.
Jangan menyamakan investasi dengan biaya. Investasi adalah dana yang perlu kita
keluarkan sekali dan tidak berhubungan dengan kegiatan rutin usaha. Contoh
investasi adalah pembelian lahan, mesin, peralatan, pengurusan izin usaha,
pendirian bangunan, pembelian peralatan, dan sebagainya. Total dana yang yang
dihabiskan untuk mengadakan itu semua disebut investasi.
2.Menghitung Biaya.
Berbeda dengan investasi, biaya adalah dana
yang mesti kita keluarkan secara rutin dan periodik selama kita menjalankan
usaha. Biaya ini terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap
adalah biaya yang harus kita bayarkan rutin dengan nilai yang tetap, tak peduli
besarnya perputaran usaha kita. Contoh biaya seperti ini adalah service charge
bagi pemilik kios atau toko di mal, biaya pegawai, telepon, listrik, air minum,
atau biaya sewa tempat—kalau bukan milik sendiri.
Adapun biaya tidak tetap adalah biaya yang
kita keluarkan secara rutin, namun nilainya tergantung pada besar kecilnya
perputaran bisnis kita. Biaya pembelian bahan baku, bahan penunjang, kemasan,
komisi pegawai, pengiriman barang dan sebangsanya adalah contoh biaya tidak
tetap. Prinsipnya, biaya ini jadi besar kalau penjualan kita meningkat, sebaliknya
ikut menyusut kalau penjualan kita turun.
Oh ya, biaya tetap bagi satu jenis usaha bisa
jadi termasuk biaya tidak tetap bagi jenis usaha yang lain. Contohnya, biaya
listrik bagi toko kelontong jelas masuk biaya tetap, tapi bagi pabrik pemintal
benang yang mesinnya menggunakan listrik, jelas masuk biaya tidak tetap. Oleh
sebab itu, saat menentukan besarnya biaya tidak tetap ini selalu sesuaikan
dengan asumsi penjualan yang anda perkirakan.
3.Asumsi Penjualan.
Berhubung usahanya sendiri belum berjalan,
maka angka-angka tersebut baru berupa asumsi. Di sinilah perlunya kita menakar
potensi pasar. Hasil kalkulasi itulah yang kita pakai sebagai asumsi penjualan.
Nah, kalau seluruh angka perkiraan itu sudah
ada, kini tiba saatnya Anda menyusul tabulasi. Pertama-tama, taruh investasi di
bagian paling atas, berikut total nilainya. Di bawahnya bisa Anda cantumkan
angka asumsi penjualan. Di bawahnya lagi Anda sertakan total biaya.
Langkah selanjutnya, Anda cuma perlu
mengurangi angka penjualan per bulan dengan besarnya biaya per bulan. Selisih
di antaranya itulah yang kita sebut laba. Kalau hasilnya negatif, ya, berarti
rugi. Setelah angka perkiraan ketahuan, silakan evaluasi. Apakah Anda puas
dengan nilainya? Untuk mengukur “kepuasan” itu, Anda bisa membagi nilai
investasi dengan besarnya laba. Hasilnya merupakan perkiraan waktu untuk
mencapai balik modal.
Kalau
Anda belum puas dengan perkiraan laba yang Anda dapat, silakan evaluasi lagi,
apakah ada kemungkinan melakukan efisiensi biaya? Atau, adakah kemungkinan
untuk memperbesar asumsi penjualan secara rasional? Kalau hasilnya tak
memuaskan juga, ya terserah Anda untuk merealisasikan rencana bisnis itu atau
tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar