“Hidup ini tak jauh
beda dengan main film. Dibutuhkan skenario atau proposal. Andalah yang menjadi
peran utamanya,”.
Kisah Sukses Pengusaha Muslim di Indonesia
tidaklah didapat secara instan dan mudah sebagaimna Kesuksesan jamil Azzaini,
melainkan melalui perjalanan panjang dan penuh rintangan. Jamil Azzaini
lahir di Purworejo 1968. Masa-masa muda Jamil sangat jauh dari kata kecukupan.
Ia hijrah ke Lampung dari rumahnya semula di Purworejo karena bapaknya diangkat
menjadi satpam di perkebunan milik PTP X, perkebunan yang sekarang bernama PT
Perkebunan Nusantara VII.
Mempunyai
kawan anak-anak para asisten kebun justru membuat Jamil bisa ikut nonton
televisi, dan mengerti berbagai fasilitas di sana seperti rumah dinas, mobil
dinas, televisi, dan aktivitas mereka seperti jalan-jalan bersama ke kota
sebulan sekali untuk berplesiran dan belanja. Apakah jamil iri?. Tentu
saja,tapi iri yang positif.
Walaupun
keluarga jamil menjadi keluarga termiskin yang ke dua di situ, ia punya
keinginan yang tinggi. Setiap saat membeli buku, pada halaman pertama ia pasti
menulis “Saya bernama Jamil, cita-cita saya insinyur pertanian. Seperti Bapak
Asisten yang punya rumah besar, punya mobil Jeep. Istrinya cantik dan berambut
panjang. Bisa masuk televisi dan salaman dengan Bapak Harto. Bisa nulis di
koran. Punya uang banyak, bisa naik haji bersama Mamak dan Bapak. Aku tidak mau
miskin lagi, miskin tidak enak karena setiap hari dihina. Itulah “Proposal
Hidup” yang dimaksud oleh Jamil Azzaini.
Bila
gurunya bertanya tentang cita-cita setiap murid, jamil akan menjawab dengan
lantang “insinyur pertanian!” yang akan disambut dengan gemuruh tawa oleh seisi
kelas termasuk gurunya. Mungkin karena tidak tahan selalu diejek, ia akan
menonjok perut si pengejek. Sontak teman-temannya yang lain mengeroyoknya.
Kepala Jamil pernah berdarah dipukul bambu, menyisakan pitak sampai saat ini.
Sejak saat itu, Sang Bapak, Ahmad zaini, yang hanya lulus SR membawa Jamil
kepada teman-temannya dan berkata, “Inilah anak saya, calon seorang insinyur
pertanian.”. Hal itu jadi motivasi tersendiri bagi Jamil Azzaini.
Susah
payah Jamil berusaha mewujudkan cita-cita itu. Meskipun ia menjadi bintang di
sekolahnya tak lantas membuatnya dekat dengan cita-citanya. Selulus SD, Jamil
melanjutkan ke satu-satunya SLTP di situ, yang bernama SMP N Tri Bhakti Utama.
Akan tetapi ia harus mencari sendiri biaya sekolahnya.
Seusai
shalat Subuh ia akan menderes lateks (karet beku) hingga pukul 07.00. Satu
bulan ia diupah Rp 4.000,-. Saat itu SPP sekolahnya Rp 1500,-. Lalu ia akan
pergi ke pasar desanya dan membeli cemilan untuk dijual di sekolah SD dekat
rumahnya. Hebatnya lagi, ia seringkali ditunjuk jadi pengganti guru yang absen
karena selalu mendapat ranking pertama. Jamil amat menikmati saat berdiri di
depan teman-temanya, membagi ilmu. “Seringkali saya berdoa, semoga hari ini
guru absen lagi, agar saya boleh mengajar lagi,” kata Jamil sambil tertawa.
Kata-kata
ajaib yang ada di setiap halaman pertama bukunya seakan memberinya kekuatan
saat harus mengayuh pedal sepedanya ke SMAN Way Halim yang ada di Bandar
Lampung yang berjarak 23 km dari rumahnya. Berarti setiap hari ia harus
mengayuh pedal sejauh 46 km. Tak pelak lagi, sesampai di sekolah seragamnya
basah kuyup oleh keringat. Kalau lelah, ia akan menumpang truk yang kebetulan
melintas di depan sekolah.
Ucapan
Bapaknya terus menjadi semangat untuknya, “Kamu harus rajin belajar. Jika kamu
punya ilmu, suatu saat nanti kamu yang akan dijaga oleh ilmu itu. Jika punya
harta, jangan malah sibuk dengan hartamu.” Jamil menjawabnya dengan segudang
prestasi. Ia menjuarai berbagai lomba. Juara karya ilmiah, pidato, siswa
teladan, cerdas cermat, simulasi P4, dan segudang kejuaraan lainnya.
Saat
diterima di IPB Bogor tanpa tes setelah lulus SMA tahun 1987, tidak lantas
membuat hatinya bangga. Ia tidak punya biaya untuk meneruskan ke Bogor.
Akhirnya berdua dengan sang Bapak, Jamil meminta pinjaman uang kepada orang
terkaya di desanya. Namun bukan uang yang didapat mereka malah dihina, “Kalau
memang miskin tidak usah berangan-angan panjang. Mau kuliah saja sudah pinjam
uang, apa selanjutnya mau pinjam uang terus-menerus setiap tahun?”. Saat itu
juga Jamil menangis. Saat berjalan menuju rumahnya Bapaknya berkata, “Kamu
harus bisa jadi insinyur pertanian, agar tidak dihina.” Singkat kata, Jamil
mengganjal biaya kuliah dan hidupnya dengan berjualan buku, koran, dan kurma
dari rumah ke rumah. Ia juga berusaha dengan membuka katering, rental komputer,
dan lain-lain.
Pada
tahun 1992, Jamil akhirnya menjadi insinyur pertanian. Cita-cita di lembar
pertama bukunya telah terwujud. Impian untuk mengejar gelar S2 pun tergapai
sudah. Jika saat S1 IPnya tidak lebih dari angka 3, ia lulus S2 dengan semua mata
kuliahnya mendapat nilai A, kecuali satu yang mendapat B. Ia masuk televise dan
terkenal, menulis di koran, bahkan ia juga naik haji.
Jamil
berusaha mewujudkan semua cita-citanya dengan menyebut tiga kata: bintang
terang, berani mengambil resiko, dan lingkungan positif,. Bintang terang yaitu
cita-cita yang akan dicapai. Target ditulis, terus dan terus untuk menyalakan
semangat. Berani ambil risiko akan mengajarkan kita banyak hal cara menyiasati
kegagalan. lingkungan yang positif akan memberi kita kekuatan, jadi berusaha
menghindari lingkungan yang negatif yang akan melemahkan semangat untuk
mencapai bintang terang.
- See more at:
http://andiazhari.com/kisah-sukses/kisah-sukses-pengusaha-muslim#sthash.MbEJryM1.dpuf

Tidak ada komentar:
Posting Komentar