Senin, 14 Oktober 2013

Jamil Azzaini Sang Insinyur Pertanian


“Hidup ini tak jauh beda dengan main film. Dibutuhkan skenario atau proposal. Andalah yang menjadi peran utamanya,”.
Kisah Sukses Pengusaha Muslim di Indonesia tidaklah didapat secara instan dan mudah sebagaimna Kesuksesan jamil Azzaini, melainkan melalui perjalanan panjang dan penuh rintangan. Jamil Azzaini lahir di Purworejo 1968. Masa-masa muda Jamil sangat jauh dari kata kecukupan. Ia hijrah ke Lampung dari rumahnya semula di Purworejo karena bapaknya diangkat menjadi satpam di perkebunan milik PTP X, perkebunan yang sekarang bernama PT Perkebunan Nusantara VII.
Mempunyai kawan anak-anak para asisten kebun justru membuat Jamil bisa ikut nonton televisi, dan mengerti berbagai fasilitas di sana seperti rumah dinas, mobil dinas, televisi, dan aktivitas mereka seperti jalan-jalan bersama ke kota sebulan sekali untuk berplesiran dan belanja. Apakah jamil iri?. Tentu saja,tapi iri yang positif.
Walaupun keluarga jamil menjadi keluarga termiskin yang ke dua di situ, ia punya keinginan yang tinggi. Setiap saat membeli buku, pada halaman pertama ia pasti menulis “Saya bernama Jamil, cita-cita saya insinyur pertanian. Seperti Bapak Asisten yang punya rumah besar, punya mobil Jeep. Istrinya cantik dan berambut panjang. Bisa masuk televisi dan salaman dengan Bapak Harto. Bisa nulis di koran. Punya uang banyak, bisa naik haji bersama Mamak dan Bapak. Aku tidak mau miskin lagi, miskin tidak enak karena setiap hari dihina. Itulah “Proposal Hidup” yang dimaksud oleh Jamil Azzaini.
Bila gurunya bertanya tentang cita-cita setiap murid, jamil akan menjawab dengan lantang “insinyur pertanian!” yang akan disambut dengan gemuruh tawa oleh seisi kelas termasuk gurunya. Mungkin karena tidak tahan selalu diejek, ia akan menonjok perut si pengejek. Sontak teman-temannya yang lain mengeroyoknya. Kepala Jamil pernah berdarah dipukul bambu, menyisakan pitak sampai saat ini. Sejak saat itu, Sang Bapak, Ahmad zaini, yang hanya lulus SR membawa Jamil kepada teman-temannya dan berkata, “Inilah anak saya, calon seorang insinyur pertanian.”. Hal itu jadi motivasi tersendiri bagi Jamil Azzaini.
Susah payah Jamil berusaha mewujudkan cita-cita itu. Meskipun ia menjadi bintang di sekolahnya tak lantas membuatnya dekat dengan cita-citanya. Selulus SD, Jamil melanjutkan ke satu-satunya SLTP di situ, yang bernama SMP N Tri Bhakti Utama. Akan tetapi ia harus mencari sendiri biaya sekolahnya.
Seusai shalat Subuh ia akan menderes lateks (karet beku) hingga pukul 07.00. Satu bulan ia diupah Rp 4.000,-. Saat itu SPP sekolahnya Rp 1500,-. Lalu ia akan pergi ke pasar desanya dan membeli cemilan untuk dijual di sekolah SD dekat rumahnya. Hebatnya lagi, ia seringkali ditunjuk jadi pengganti guru yang absen karena selalu mendapat ranking pertama. Jamil amat menikmati saat berdiri di depan teman-temanya, membagi ilmu. “Seringkali saya berdoa, semoga hari ini guru absen lagi, agar saya boleh mengajar lagi,” kata Jamil sambil tertawa.
Kata-kata ajaib yang ada di setiap halaman pertama bukunya seakan memberinya kekuatan saat harus mengayuh pedal sepedanya ke SMAN Way Halim yang ada di Bandar Lampung yang berjarak 23 km dari rumahnya. Berarti setiap hari ia harus mengayuh pedal sejauh 46 km. Tak pelak lagi, sesampai di sekolah seragamnya basah kuyup oleh keringat. Kalau lelah, ia akan menumpang truk yang kebetulan melintas di depan sekolah.
Ucapan Bapaknya terus menjadi semangat untuknya, “Kamu harus rajin belajar. Jika kamu punya ilmu, suatu saat nanti kamu yang akan dijaga oleh ilmu itu. Jika punya harta, jangan malah sibuk dengan hartamu.” Jamil menjawabnya dengan segudang prestasi. Ia menjuarai berbagai lomba. Juara karya ilmiah, pidato, siswa teladan, cerdas cermat, simulasi P4, dan segudang kejuaraan lainnya.
Saat diterima di IPB Bogor tanpa tes setelah lulus SMA tahun 1987, tidak lantas membuat hatinya bangga. Ia tidak punya biaya untuk meneruskan ke Bogor. Akhirnya berdua dengan sang Bapak, Jamil meminta pinjaman uang kepada orang terkaya di desanya. Namun bukan uang yang didapat mereka malah dihina, “Kalau memang miskin tidak usah berangan-angan panjang. Mau kuliah saja sudah pinjam uang, apa selanjutnya mau pinjam uang terus-menerus setiap tahun?”. Saat itu juga Jamil menangis. Saat berjalan menuju rumahnya Bapaknya berkata, “Kamu harus bisa jadi insinyur pertanian, agar tidak dihina.” Singkat kata, Jamil mengganjal biaya kuliah dan hidupnya dengan berjualan buku, koran, dan kurma dari rumah ke rumah. Ia juga berusaha dengan membuka katering, rental komputer, dan lain-lain.
Pada tahun 1992, Jamil akhirnya menjadi insinyur pertanian. Cita-cita di lembar pertama bukunya telah terwujud. Impian untuk mengejar gelar S2 pun tergapai sudah. Jika saat S1 IPnya tidak lebih dari angka 3, ia lulus S2 dengan semua mata kuliahnya mendapat nilai A, kecuali satu yang mendapat B. Ia masuk televise dan terkenal, menulis di koran, bahkan ia juga naik haji.
Jamil berusaha mewujudkan semua cita-citanya dengan menyebut tiga kata: bintang terang, berani mengambil resiko, dan lingkungan positif,. Bintang terang yaitu cita-cita yang akan dicapai. Target ditulis, terus dan terus untuk menyalakan semangat. Berani ambil risiko akan mengajarkan kita banyak hal cara menyiasati kegagalan. lingkungan yang positif akan memberi kita kekuatan, jadi berusaha menghindari lingkungan yang negatif yang akan melemahkan semangat untuk mencapai bintang terang.

- See more at: http://andiazhari.com/kisah-sukses/kisah-sukses-pengusaha-muslim#sthash.MbEJryM1.dpuf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Senin, 14 Oktober 2013

Jamil Azzaini Sang Insinyur Pertanian


“Hidup ini tak jauh beda dengan main film. Dibutuhkan skenario atau proposal. Andalah yang menjadi peran utamanya,”.
Kisah Sukses Pengusaha Muslim di Indonesia tidaklah didapat secara instan dan mudah sebagaimna Kesuksesan jamil Azzaini, melainkan melalui perjalanan panjang dan penuh rintangan. Jamil Azzaini lahir di Purworejo 1968. Masa-masa muda Jamil sangat jauh dari kata kecukupan. Ia hijrah ke Lampung dari rumahnya semula di Purworejo karena bapaknya diangkat menjadi satpam di perkebunan milik PTP X, perkebunan yang sekarang bernama PT Perkebunan Nusantara VII.
Mempunyai kawan anak-anak para asisten kebun justru membuat Jamil bisa ikut nonton televisi, dan mengerti berbagai fasilitas di sana seperti rumah dinas, mobil dinas, televisi, dan aktivitas mereka seperti jalan-jalan bersama ke kota sebulan sekali untuk berplesiran dan belanja. Apakah jamil iri?. Tentu saja,tapi iri yang positif.
Walaupun keluarga jamil menjadi keluarga termiskin yang ke dua di situ, ia punya keinginan yang tinggi. Setiap saat membeli buku, pada halaman pertama ia pasti menulis “Saya bernama Jamil, cita-cita saya insinyur pertanian. Seperti Bapak Asisten yang punya rumah besar, punya mobil Jeep. Istrinya cantik dan berambut panjang. Bisa masuk televisi dan salaman dengan Bapak Harto. Bisa nulis di koran. Punya uang banyak, bisa naik haji bersama Mamak dan Bapak. Aku tidak mau miskin lagi, miskin tidak enak karena setiap hari dihina. Itulah “Proposal Hidup” yang dimaksud oleh Jamil Azzaini.
Bila gurunya bertanya tentang cita-cita setiap murid, jamil akan menjawab dengan lantang “insinyur pertanian!” yang akan disambut dengan gemuruh tawa oleh seisi kelas termasuk gurunya. Mungkin karena tidak tahan selalu diejek, ia akan menonjok perut si pengejek. Sontak teman-temannya yang lain mengeroyoknya. Kepala Jamil pernah berdarah dipukul bambu, menyisakan pitak sampai saat ini. Sejak saat itu, Sang Bapak, Ahmad zaini, yang hanya lulus SR membawa Jamil kepada teman-temannya dan berkata, “Inilah anak saya, calon seorang insinyur pertanian.”. Hal itu jadi motivasi tersendiri bagi Jamil Azzaini.
Susah payah Jamil berusaha mewujudkan cita-cita itu. Meskipun ia menjadi bintang di sekolahnya tak lantas membuatnya dekat dengan cita-citanya. Selulus SD, Jamil melanjutkan ke satu-satunya SLTP di situ, yang bernama SMP N Tri Bhakti Utama. Akan tetapi ia harus mencari sendiri biaya sekolahnya.
Seusai shalat Subuh ia akan menderes lateks (karet beku) hingga pukul 07.00. Satu bulan ia diupah Rp 4.000,-. Saat itu SPP sekolahnya Rp 1500,-. Lalu ia akan pergi ke pasar desanya dan membeli cemilan untuk dijual di sekolah SD dekat rumahnya. Hebatnya lagi, ia seringkali ditunjuk jadi pengganti guru yang absen karena selalu mendapat ranking pertama. Jamil amat menikmati saat berdiri di depan teman-temanya, membagi ilmu. “Seringkali saya berdoa, semoga hari ini guru absen lagi, agar saya boleh mengajar lagi,” kata Jamil sambil tertawa.
Kata-kata ajaib yang ada di setiap halaman pertama bukunya seakan memberinya kekuatan saat harus mengayuh pedal sepedanya ke SMAN Way Halim yang ada di Bandar Lampung yang berjarak 23 km dari rumahnya. Berarti setiap hari ia harus mengayuh pedal sejauh 46 km. Tak pelak lagi, sesampai di sekolah seragamnya basah kuyup oleh keringat. Kalau lelah, ia akan menumpang truk yang kebetulan melintas di depan sekolah.
Ucapan Bapaknya terus menjadi semangat untuknya, “Kamu harus rajin belajar. Jika kamu punya ilmu, suatu saat nanti kamu yang akan dijaga oleh ilmu itu. Jika punya harta, jangan malah sibuk dengan hartamu.” Jamil menjawabnya dengan segudang prestasi. Ia menjuarai berbagai lomba. Juara karya ilmiah, pidato, siswa teladan, cerdas cermat, simulasi P4, dan segudang kejuaraan lainnya.
Saat diterima di IPB Bogor tanpa tes setelah lulus SMA tahun 1987, tidak lantas membuat hatinya bangga. Ia tidak punya biaya untuk meneruskan ke Bogor. Akhirnya berdua dengan sang Bapak, Jamil meminta pinjaman uang kepada orang terkaya di desanya. Namun bukan uang yang didapat mereka malah dihina, “Kalau memang miskin tidak usah berangan-angan panjang. Mau kuliah saja sudah pinjam uang, apa selanjutnya mau pinjam uang terus-menerus setiap tahun?”. Saat itu juga Jamil menangis. Saat berjalan menuju rumahnya Bapaknya berkata, “Kamu harus bisa jadi insinyur pertanian, agar tidak dihina.” Singkat kata, Jamil mengganjal biaya kuliah dan hidupnya dengan berjualan buku, koran, dan kurma dari rumah ke rumah. Ia juga berusaha dengan membuka katering, rental komputer, dan lain-lain.
Pada tahun 1992, Jamil akhirnya menjadi insinyur pertanian. Cita-cita di lembar pertama bukunya telah terwujud. Impian untuk mengejar gelar S2 pun tergapai sudah. Jika saat S1 IPnya tidak lebih dari angka 3, ia lulus S2 dengan semua mata kuliahnya mendapat nilai A, kecuali satu yang mendapat B. Ia masuk televise dan terkenal, menulis di koran, bahkan ia juga naik haji.
Jamil berusaha mewujudkan semua cita-citanya dengan menyebut tiga kata: bintang terang, berani mengambil resiko, dan lingkungan positif,. Bintang terang yaitu cita-cita yang akan dicapai. Target ditulis, terus dan terus untuk menyalakan semangat. Berani ambil risiko akan mengajarkan kita banyak hal cara menyiasati kegagalan. lingkungan yang positif akan memberi kita kekuatan, jadi berusaha menghindari lingkungan yang negatif yang akan melemahkan semangat untuk mencapai bintang terang.

- See more at: http://andiazhari.com/kisah-sukses/kisah-sukses-pengusaha-muslim#sthash.MbEJryM1.dpuf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar