Sore itu senja baru saja mengecambah,
waktu Maghrib sebentar lagi tiba. Dari kejauhan, sesosok siluet lelaki gagah,
menenteng tas, berjalan menuju ke rumah sederhana di sebuah kompleks perumahan
di pinggiran kota.
“Ummi.. Ummi..” panggil Putri kepada
Ibunya. “Abi pulang mi.. itu abi kan?” sambil jarinya menunjuk-nunjuk ke arah
siluet yang perlahan semakin dekat. Sumringah.
Ah, tentu saja itu Abinya putri, dari
jalannya saja kan sudah keliatan, abinya Putri cacat. “Iya sayang, itu abi..”
jawab Ibunya sambil mengelus-elus kepala anaknya, “Sana salim sama abi”
“Iya ummi…” langsung menghambur keluar.
Aih imutnya bidadari kecil itu. Kedua alisnya mirip sekali dengan alis ibunya
yang indah.
Si pemilik siluet kini sudah sempurna
berada di depan rumah bahagia mereka, “Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam abi..” diserobot
tangan abinya dan dicium punggung tangan itu. Lelaki tersebut tersenyum, cuma
itu yang bisa dilakukan. Tubuhnya lelah, pekerjaan hari ini cukup membuatnya
hampir kehabisan energi. Belum lagi atasan yang selalu tidak bersahabat. Jika
seperti ini, di benaknya selalu terpikir untuk resign dan berwirausaha saja.
Sayangnya, begitu banyak pertimbangan yang membuatnya belum berani melangkah.
“Abi.. Abi… bacain dongeng untuk Putri
dong” rengek putri sambil menarik-narik tangan ayahnya.
“Sama Ummi aja ya Putri sayang, Abi
lelah sekali. ummi kan jago tuh kalau mendongeng”
“Yah, kalau sama Ummi kan udah sering,
Putri maunya sama Abi” kini wajah Putri dibuatnya memelas.
“Abi capek putri, sama Ummi aja ya.. Abi
juga kan baru pulang kerja”
“Nggak mau.. Putri maunya sama Abi.. ya
Bi.. mau ya..”
“Putri!!” kini suara tersebut meninggi,
jengkel, “Abi kan udah bilang, Abi lagi capek!!”
Putrid melepaskan genggaman tangannya,
berlari ke kamar. Putri menangis, kecewa. Kenapa sih Abi selalu nggak ada waktu
untuk Putri? Masih terus menangis.
Tapi beberapa menit kemudian, Putri
tersenyum simpul, sebuah ide di benaknya muncul.
*****
Beberapa menit kemudian, lelaki tersebut
selesai mandi dan sedang menikmati teh hangatnya di beranda rumah. Ibunya sibuk
menyiapkan menu makan malam di dapur. Sedangkan Putri, ah entahlah sedang
berada dimana dia.
“Abi.. putri boleh pinjem uang nggak?”
ujar Putri yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
“Untuk apa sayang?”
“Nggak banyak kok abi, cuma 16 ribu aja”
“Iya untuk apa? Kalau mau beli mainana
besok pas libur abi belikan kok sayang” dengan suara yang masih terdengar
jengkel. Mungkin karena beban kerja yang menumpuk hari ini.
“Bukan, Puteri nggak mau beli mainan”
“Terus..”
“Putri ingin membeli waktu abi satu jam
aja”
Ayahnya mengerutkan keningnya mendengar
ucapan anaknya, “Membeli waktu abi??”
“Iya, dua hari yang lalu, ummi pernah
bilang kalau bagi abi, waktu itu adalah uang. Nah kalau sebulan gaji abi
6.400.000, abi kerja 20 hari sebulan dan setiap harinya 8 jam, maka setelah
putri hitung-hitung pake kalkulator, gaji abi satu jam 40 ribu. Putri sudah
membuka celengan putri, ternyata masih nggak cukup 40 ribu abi, kurang 16 ribu”
Kini, kedua mata lelaki tersebut
berkaca-kaca, menyadari bahwa akhir-akhir ini waktunya banyak tersita di kantor
dan melupakan peri kecilnya yang juga butuh bersama dengannya.
“Pinjem uangnya ya abi, nanti putri
menabung lagi untuk membayarnya”
Ibunya, yang sedari tadi mendengar semua
percakapan suami dan anaknya, langsung keluar dan memeluk putri. Begitupun abinya,
mereka berpelukan bertiga.
“Abi sayang sama puteri, maafin abi ya
sayang...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar