Selasa, 15 Oktober 2013

Maafkan Abi Sayang.........



Sore itu senja baru saja mengecambah, waktu Maghrib sebentar lagi tiba. Dari kejauhan, sesosok siluet lelaki gagah, menenteng tas, berjalan menuju ke rumah sederhana di sebuah kompleks perumahan di pinggiran kota.
“Ummi.. Ummi..” panggil Putri kepada Ibunya. “Abi pulang mi.. itu abi kan?” sambil jarinya menunjuk-nunjuk ke arah siluet yang perlahan semakin dekat. Sumringah.
Ah, tentu saja itu Abinya putri, dari jalannya saja kan sudah keliatan, abinya Putri cacat. “Iya sayang, itu abi..” jawab Ibunya sambil mengelus-elus kepala anaknya, “Sana salim sama abi”
“Iya ummi…” langsung menghambur keluar. Aih imutnya bidadari kecil itu. Kedua alisnya mirip sekali dengan alis ibunya yang indah.
Si pemilik siluet kini sudah sempurna berada di depan rumah bahagia mereka, “Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam abi..” diserobot tangan abinya dan dicium punggung tangan itu. Lelaki tersebut tersenyum, cuma itu yang bisa dilakukan. Tubuhnya lelah, pekerjaan hari ini cukup membuatnya hampir kehabisan energi. Belum lagi atasan yang selalu tidak bersahabat. Jika seperti ini, di benaknya selalu terpikir untuk resign dan berwirausaha saja. Sayangnya, begitu banyak pertimbangan yang membuatnya belum berani melangkah.
“Abi.. Abi… bacain dongeng untuk Putri dong” rengek putri sambil menarik-narik tangan ayahnya.
“Sama Ummi aja ya Putri sayang, Abi lelah sekali. ummi kan jago tuh kalau mendongeng”
“Yah, kalau sama Ummi kan udah sering, Putri maunya sama Abi” kini wajah Putri dibuatnya memelas.
“Abi capek putri, sama Ummi aja ya.. Abi juga kan baru pulang kerja”
“Nggak mau.. Putri maunya sama Abi.. ya Bi.. mau ya..”
“Putri!!” kini suara tersebut meninggi, jengkel, “Abi kan udah bilang, Abi lagi capek!!”
Putrid melepaskan genggaman tangannya, berlari ke kamar. Putri menangis, kecewa. Kenapa sih Abi selalu nggak ada waktu untuk Putri? Masih terus menangis.
Tapi beberapa menit kemudian, Putri tersenyum simpul, sebuah ide di benaknya muncul.
*****
Beberapa menit kemudian, lelaki tersebut selesai mandi dan sedang menikmati teh hangatnya di beranda rumah. Ibunya sibuk menyiapkan menu makan malam di dapur. Sedangkan Putri, ah entahlah sedang berada dimana dia.
“Abi.. putri boleh pinjem uang nggak?” ujar Putri yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
“Untuk apa sayang?”
“Nggak banyak kok abi, cuma 16 ribu aja”
“Iya untuk apa? Kalau mau beli mainana besok pas libur abi belikan kok sayang” dengan suara yang masih terdengar jengkel. Mungkin karena beban kerja yang menumpuk hari ini.
“Bukan, Puteri nggak mau beli mainan”
“Terus..”
“Putri ingin membeli waktu abi satu jam aja”
Ayahnya mengerutkan keningnya mendengar ucapan anaknya, “Membeli waktu abi??”
“Iya, dua hari yang lalu, ummi pernah bilang kalau bagi abi, waktu itu adalah uang. Nah kalau sebulan gaji abi 6.400.000, abi kerja 20 hari sebulan dan setiap harinya 8 jam, maka setelah putri hitung-hitung pake kalkulator, gaji abi satu jam 40 ribu. Putri sudah membuka celengan putri, ternyata masih nggak cukup 40 ribu abi, kurang 16 ribu”
Kini, kedua mata lelaki tersebut berkaca-kaca, menyadari bahwa akhir-akhir ini waktunya banyak tersita di kantor dan melupakan peri kecilnya yang juga butuh bersama dengannya.
“Pinjem uangnya ya abi, nanti putri menabung lagi untuk membayarnya”
Ibunya, yang sedari tadi mendengar semua percakapan suami dan anaknya, langsung keluar dan memeluk putri. Begitupun abinya, mereka berpelukan bertiga.
“Abi sayang sama puteri, maafin abi ya sayang...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selasa, 15 Oktober 2013

Maafkan Abi Sayang.........



Sore itu senja baru saja mengecambah, waktu Maghrib sebentar lagi tiba. Dari kejauhan, sesosok siluet lelaki gagah, menenteng tas, berjalan menuju ke rumah sederhana di sebuah kompleks perumahan di pinggiran kota.
“Ummi.. Ummi..” panggil Putri kepada Ibunya. “Abi pulang mi.. itu abi kan?” sambil jarinya menunjuk-nunjuk ke arah siluet yang perlahan semakin dekat. Sumringah.
Ah, tentu saja itu Abinya putri, dari jalannya saja kan sudah keliatan, abinya Putri cacat. “Iya sayang, itu abi..” jawab Ibunya sambil mengelus-elus kepala anaknya, “Sana salim sama abi”
“Iya ummi…” langsung menghambur keluar. Aih imutnya bidadari kecil itu. Kedua alisnya mirip sekali dengan alis ibunya yang indah.
Si pemilik siluet kini sudah sempurna berada di depan rumah bahagia mereka, “Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam abi..” diserobot tangan abinya dan dicium punggung tangan itu. Lelaki tersebut tersenyum, cuma itu yang bisa dilakukan. Tubuhnya lelah, pekerjaan hari ini cukup membuatnya hampir kehabisan energi. Belum lagi atasan yang selalu tidak bersahabat. Jika seperti ini, di benaknya selalu terpikir untuk resign dan berwirausaha saja. Sayangnya, begitu banyak pertimbangan yang membuatnya belum berani melangkah.
“Abi.. Abi… bacain dongeng untuk Putri dong” rengek putri sambil menarik-narik tangan ayahnya.
“Sama Ummi aja ya Putri sayang, Abi lelah sekali. ummi kan jago tuh kalau mendongeng”
“Yah, kalau sama Ummi kan udah sering, Putri maunya sama Abi” kini wajah Putri dibuatnya memelas.
“Abi capek putri, sama Ummi aja ya.. Abi juga kan baru pulang kerja”
“Nggak mau.. Putri maunya sama Abi.. ya Bi.. mau ya..”
“Putri!!” kini suara tersebut meninggi, jengkel, “Abi kan udah bilang, Abi lagi capek!!”
Putrid melepaskan genggaman tangannya, berlari ke kamar. Putri menangis, kecewa. Kenapa sih Abi selalu nggak ada waktu untuk Putri? Masih terus menangis.
Tapi beberapa menit kemudian, Putri tersenyum simpul, sebuah ide di benaknya muncul.
*****
Beberapa menit kemudian, lelaki tersebut selesai mandi dan sedang menikmati teh hangatnya di beranda rumah. Ibunya sibuk menyiapkan menu makan malam di dapur. Sedangkan Putri, ah entahlah sedang berada dimana dia.
“Abi.. putri boleh pinjem uang nggak?” ujar Putri yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
“Untuk apa sayang?”
“Nggak banyak kok abi, cuma 16 ribu aja”
“Iya untuk apa? Kalau mau beli mainana besok pas libur abi belikan kok sayang” dengan suara yang masih terdengar jengkel. Mungkin karena beban kerja yang menumpuk hari ini.
“Bukan, Puteri nggak mau beli mainan”
“Terus..”
“Putri ingin membeli waktu abi satu jam aja”
Ayahnya mengerutkan keningnya mendengar ucapan anaknya, “Membeli waktu abi??”
“Iya, dua hari yang lalu, ummi pernah bilang kalau bagi abi, waktu itu adalah uang. Nah kalau sebulan gaji abi 6.400.000, abi kerja 20 hari sebulan dan setiap harinya 8 jam, maka setelah putri hitung-hitung pake kalkulator, gaji abi satu jam 40 ribu. Putri sudah membuka celengan putri, ternyata masih nggak cukup 40 ribu abi, kurang 16 ribu”
Kini, kedua mata lelaki tersebut berkaca-kaca, menyadari bahwa akhir-akhir ini waktunya banyak tersita di kantor dan melupakan peri kecilnya yang juga butuh bersama dengannya.
“Pinjem uangnya ya abi, nanti putri menabung lagi untuk membayarnya”
Ibunya, yang sedari tadi mendengar semua percakapan suami dan anaknya, langsung keluar dan memeluk putri. Begitupun abinya, mereka berpelukan bertiga.
“Abi sayang sama puteri, maafin abi ya sayang...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar